Membatik bagi orang Bakaran merupakan suatau hal yang sudah melekat, bagian dari hidupnya. Dilakukan bertahun-tahun, turun-menurun dengan berbagai alasan yang mendasar. Ada yang karena atas dasar hobi, untuk mengisi kekosongan, dan karena menjadi pekerjaan kesehariannya. De Yem (55) salah seorang wanita yang masih bertahan membatik hingga sekarang. Bagaimana ceritanya ?… Berikut kisahnya!
De Yem, masyarakat menyebutnya, yang nama lengkapnya Kasiyem (55) desa Bakaran Wetan Rt. 03 Rw. 01. Adalah seorang ibu tua yang masih bertahan membatik hingga saat ini. Baginya membatik adalah aktifitas yang tiap hari dilakukan. Karya batiknya sudah tidak diragukan lagi. Dikalangan masyarakat karya batiknya dinilai halusan.
Kamis 8/12/11, tepatnya pukul 11.00 wib. Saya bersilaturrahmi kerumahnya sambil mengantarkan cetakan selembar foto bersama ibu Poppy Dharsono dan 2 lembar kain mori putih untuk dibatik. Dengan gayanya yang “njawani”, mempersilahkan duduk dan berbincang asyik diruang kerjanya yang tidak begitu luas. Yaitu disebelah samping kanan rumah dengan lebar 2 M masih didalam pagar dekat dapur.
Dengan suasana yang santai, sambil membatik, De Yem bercerita banyak tentang dirinya. Di tahun 1985 lah ibu berusia 55 tahun ini, mulai tinggal di Bakaran. Dan disinilah memulainya membatik.
Sebelumnya, kasiyem ini tinggal di Wonogiri tempat kelahiranya. Berbagai pekerjaan pun pernah dijalaninya. Pernah menjahit, menjadi tukang masak, perias janur, tukang salon. Pernah juga diminta membantu pekerjaan pak leknya yang seorang desainer dan mengembangkan batik.
Saat itu dia sudah memahami bagaimana seluk beluk membatik. Namun karena belum mempunyai niatan menekuninya akhirnya hanya sekedar membantu saja. Dia mengaku pernah tinggal di Jakarta selama 16 tahun mengikuti suaminya. Selama disana dia bekerja di persalonan.
Tepatnya pada tahun 1985 suaminya keponakan Mbah Tamat Bakaran Wetan, disuruh pulang untuk merawat dan menempati rumahnya. Hingga sekarang disinilah tempat tinggalnya.
Saat pertama kali tinggal di Bakaran dirasakan sepi karena tidak mempunyai pekerjaan. Tiap harinya tidak ada kesibukan melainkan sebagai ibu rumah tangga biasa. Disebabkan lingkungan sekitarnya pada membatik, dan kondisi yang kosong akhirnya minat untuk membatik tumbuh dan sampai sekarang masih dilakukan yang menjadi sumber penghidupanya.
De Yem sejak awal mula membatik lebih suka membikin motif/ pola batik sendiri. Sangat jarang membatik menggunakan pola orang lain. Dia mengaku sedikit banyak ilmu soal desain pola memahami.
Dalam membuat pola dan membatik, Kasiyem atas dasar hobi, dan kesenangan hati. “Saya membatik, menciptakan motif karena hobi dan kesenangan hati. Walaupun pola itu rumit, kalau saya senang akan saya buat, dan sebaliknya pola itu terlihat gampang tapi tidak ada rasa senang dan mood di hati untuk membatik, tidak akan saya kerjakan. Berbagai pekerjaan pernah saya lakukan. Saya memilih membatik menjadi pekerjaan karena atas panggilan jiwa. Membatik itu kalau tidak dengan dasar perasaannya, pasti hasilnya kurang bagus, terlihat tidak hidup”, tuturnya.
Dia mempunyai cara-cara disaat menciptakan pola batik. Terkadang setelah melihat baju orang dan ada motif batiknya yang bagus, ini bisa menjadi inspirasi dan terciptalah sebuah motif batik. Selain itu, dengan cara mengarang terlebih dulu, mengikuti kata hatinya, kadang melakukan perenungan dahulu terus membuat orek-orekan dikertas, lalu disalin dengan sempurna dikertas pola, jadilah sebuah pola batik. Kebanyakan saat menciptakan motif, dipengaruhi suasana hatinya dan lingkungan sekitar/ gejala sosial yang terjadi.
Batik yang dibuatnya diera akhir tahun 80-an dan awal tahuan 90-an adalah dalam bentuk jaret/ tapeh, sarung, emban-emban dengan corak klasik. Harga berkisar Rp. 25.000, yang jaret Rp 30.000 per lembar berukuran 2,5 M. Waktu itu preses soganya dilakukan di Solo dengan jenis soga gennes. Berangkat ke Solo 3 bulan sekali dengan membawa 10-14 lembar batik yang sudah decanting (masih mentah) untuk di soga. Dibawa ke Solo, karena atas permintaan pembeli dengan jenis soga gennes. Di Bakaran jenis soganya berbeda seperti yang di Solo yaitu agak mengarah cokelat tua mendekati kehitaman.
Ditahun 1994 batik bakaran mengalami perkembangan , yaitu membuat batik untuk hem, baju. Termasuk juga De Yem mengikutinya. Dan sudah bewarna-warni coraknya.
Sampai sekarang Kasiyem special membatik/ mencanting saja. Proses pewarnaan sampai finishing diserahkan keorang lain dan dikerjakan di Bakaran sendiri. Dia hanya melayani pesanan saja. Tidak ada barang yang distok. Harga batik yang diciptakan dijual antara Rp. 250.000 sampai Rp. 500.000 sesuai tingkat kerumitan motif, dan lamanya pembuatan.
Selama membatik dia tidak pernah menjadi buruh juragan batik. Lebih suka mandiri. Membuat sendiri untuk di jual sendiri. “Saya merasa merdeka dengan yang seperti ini, saya atur-atur sendiri tanpa ada ikatan yang menjerat. Pernah sebentar saya di kasih garapan oleh juragan, tapi ini tidak mengikat, dan karena ada unsur kerja sama denganya. Karena disaat itu saya menginginkan proses finishing batik saya disana”, ujarnya.
Saat ditanya soal sejarah batik bakaran, dia mengaku tidak mengetahuinya karena seorang pendatang. Dia hanya cerita, kalau masih ada sesepuh batik yang sudah tua, sekarang usianya sudah lanjut, namanya mbah Mur Carik. Dia terkenal batikannya yang halus. Hampir semua orang memesan pada dia saat masih produktif.
“Saat ini Sudah tidak membatik, mungkin bisa tanya ke dia kalau soal sejarah batik disini. Mbah Mur itu, ibunya dulu juga pembatik, namanya Mbah monah”, kata De Yem.
Ditulis oleh Irham, wawancara pada Kamis, 8 Desember 2011 di kediamannya Ibu Kasiyem pukul 11.00 wib